Saturday, April 16, 2005

(selimut) setelah tragedi

Lelaki hitam dan perempuan putih berselimut
Kengerian malam menenggelamkan mereka dalam kesendiriannya
Seperti halnya bayangannya, tubuh mereka lenyap oleh sisa tragedi kemarin sore
Aku mengadu
Kenapa tidak ada selimut untukku
Sehingga aku pun bisa memakamkan jasadku di baliknya
Tubuhku terberai
Air bah memisahkannya menjadi bagian-bagian
Dan rasanya tidak mungkin selembar selimut cukup
Karena tubuh-tubuh yang beku tercerai begitu banyak
Sumpah-sumpah memisahkannya jauh
Sumpah yang diucapkan lelaki hitam dan perempuan putih
Saat tragedi tiba kemarin sore

Sunday, April 10, 2005

Malam jahanam

Seorang anak kecil lidahnya terbakar
Mulutnya berubah menjadi pipa dan kaleng arang
Mengendus di bawah kereta yang melindasnya setiap saat
Ketika tiba waktunya
Lokomotif tidak lagi bersuara
Dia berteriak
Begitu beberapa malam terakhir dia memanggil
Ibunya yang menjadi logam dengan baut-baut di kedua tangannya
Dan kali yang ini pun
Mereka bertiga dipertemukan
Malam jahanam dengan lelaki yang tinggal menjadi telegram
Separuh tercecer setelah sisanya dihabisi binatang
Di kasur lembab
Ketika kereta sudah sampai di perhentiannya

Angka-angka

Bilangan saling mengingkari
Diantara tanda-tanda, hitung-menghitung
Tentang berapa dan siapa
Tentang kepala berserakan dalam lingkaran enam dan delapan

Sedari tadi bahkan sebelum sesuatunya akan dimulai
Mereka bederet
Menyampaikan asuransi untuk ikan koi
Yang hidup dari bangkai-bangkai tanpa kepala

Terkadang ada saja yang mengingatkan
Bahwa engkau pun bisa menjadi bangkai atau ikan koi
Dan sudah pasti
Kau mengikutiku
Menjadi bilangan tanpa tanda

Nias...

Sekali lagi kau kenakan pita hitam
Diiringi lagu hening di sela sorai penonton
Bumimu goyah untuk kesekian kalinya
Saat malam mengguna-guna saudaramu dalam lelap
Dan air laut yang tenang mengalun
Sempurna oleh langitmu yang runtuh bergelimangan

Beberapa sibuk mencari arah
Ke hutan dan gunung-gunung
Tapi tidak engkau
Kakimu terlalu lemah berdiri
Terduduk di sudut gereja tak bernama
Di atas teriakan saudaramu yang telah mati

Telingamu berdarah
Kau tusuki gendangnya dengan pasak atap rumahmu
Sehingga kau pun tak lagi mendengar
Rintihan sanak yang melantakkan

Kau taburi matamu dengan kaca dan puing
Dan mayat-mayat kaku itu
Tak lagi bisa membuatmu ngilu

Akankah engkau terdiam
Tubuhmu masih saja menggigil
Gempamu bisa meratakan gereja di atasmu
Untuk kedua kalinya

Ketika kabut siang mulai hinggap
Ribuan mata memandangmu
Terduduk
Dalam pelukan jasad kedua orang tuamu

Mata merah

Lubang kecil dan cahaya keluar darinya, lurus terang
Sebutir mata menutupinya, menyelidik
Menjaga pertikaian berada di jalurnya
Berlaku layaknya dalang akan goleknya di saat jeda

Mata merah memburu setiap jengkal
Membebaskan ujungnya dari dalam lubang

Mata merah yang selalu menjadi pihak ketiga
Tak terkecuali pertikaian di malam buta
Gelap tanpa segaris cahaya lurus dan terang
Atau sesaat kemarin ketika segala-segala berubah menjadi merah

Mata merah melunturkan warnanya keluar lubang dengan warna yang tidak habis

Sebutir membuat semuanya menjadi jelas
Tidak abu-abu dua, tiga, atau seterusnya

Tiang-tiang pongah mulai rebah
Keyakinan-keyakinan yang sudah
Sebuah bayangan kemenangan
Dari sebutir mata merah
Menunggu kesempatan kedua, ketiga, dan seterusnya

Kotak kecil

Racunmu menusuki menusuki mata dengan cahaya redup terang
Gambar-gambar bergerak dari sudut ke sudut
Urutan yang tidak beraturan
Kau sajikan dunia dalam logika tak bernalar
Akal sehat yang mulai akut

Lalu ada baju-baju dan kosmetik
Seperti pasar malam
Mendadaniku layaknya badut di pekan raya

Sedemikian kerasnya candu
Tubuhku perlahan kau lahap habis
Dalam sebuah kotak kecil
Yang telah memasung kesadaran 2 meter jauhnya
Hingga wajahku terbasuh oleh embun nafas di dinding kaca tebal
Yang di baliknya begitu banyak orang meneriakkan tipu muslihat
(demikian botol-botol shampo ikut berteriak)

Dengan mudahnya kau mengelabuhiku
Merupa nisan di atas pekuburanku

Berburu masa

Sekali sempat kau menoleh ke belakang
Namun hanya sekali itu
Ketika tiba-tiba jalan terbelah dan ribuan langkah kita pun berjarak

Matahari jatuh dalam lubang menganga
Kakiku menggelepar memaksa lidah mengatuk sisa dingin

Para pemangsa terus saja berjalan
Diam menyembunyikan gunjingan
Berbaris dengan begitu rapih di sebelah-sebelahku tanpa sedikitpun menggeser mata

Dahaga yang kering menenggelamkan teriak
Bahaya yang memburumu dengan pedang terhunus
Walaupun kau masih saja tegak meneruskan langkah

Dua garis cahaya hitam yang membelah
Jembatan memanjang di atas kuburan matahari

Kini siapa yang akan menolongku
Mengembalikan daun-daun terbakar ke rantingnya
Mencuri kembali segala yang telah kau bawa pergi

Hujan siang hari

Genteng rumah tetanggaku tidak lagi berwarna merah
Hujan siang ini mengalirkan hitammya
Hujan tanpa basah yang mampu mengairiku
Hujan yang berpuluh tahun lalu selalu kutunggu
Bersama perahu kertas di parit belakang rumah
Hujan yang menggigilkan saat malam-malam tiba

Namun tidak lagi

Kaca jendela dan jeruki besi memenjarakan tubuh
Air yang jatuh tinggallah sebuah awang-awang
Yang dipikirkan oleh intuisi tak berkesudahan
Membuatku terjerembab
Mencari ruang kosong
Mengisi dan memenuhinya dengan berbagai alasan

Alasan yang direka daun pepaya mengetuk jendelaku
Alasan yang belum sempat diceritakan genteng hitam tetanggaku mengalirkan hujan

Dalam sebuah bingkai persegi aku memandangi
Burung prenjak kuyup di sela jeruji
Menyampaikan kesegaran dalam tubuh bergetar

Haruskah aku berlari lagi
Mengejar perahu kertas yang tenggelam oleh riak