Tuesday, May 03, 2005

Kabar Pembunuhan

Suara telepon yang gaduh
Di seberang, seorang perempuan menceritakan kebohongan
Tentang pembunuhan di masa lalu
Perempuan itu menangis karena ditinggal mati kekasihnya

Seorang lelaki masih saja terbata
Telinganya gerah
Guyuran angin malam tak juga membuatnya jera

Mereka dipertemukan celaka
Celaka di balik gagang telepon berwarna merah
Delapan orang coba menghalau celaka menghunus kata
Yang dibisikkan ke dalam kerongkungan perempuan murka

...
Suara telepon yang gaduh
Mengabarkan lelaki yang mati
Tertikam delapan pisau belati

Malam yang Enggan Pulang

Kau henyakkan bangku dengan tergesa
Sedetik sebelum memaksa daun pintu terbuka
Angin menusuk malas
Menerpa ujung-ujung rambutmu diam
Namun tak sediam kakimu memaku
Tidak seperti kemarin atau ribuan hari yang lalu, kau kembali mengusir segerombolan garis matahari yang menyatroni ruang tamumu

Tidak hari ini
Tubuhmu membayang, meski kau membelakanginya
Matamu tertuju pada sosok randu alas di ujung jalan
Tatapanmu menembus batang dan menguliti kerak-kerak masa yang mengeras

Pada akhirnya malam kecewa
Karena sudah tidak bisa lagi mengetuk pintu rumahmu
Dia bergidik
Tentang sebilah kapak di tangan kananmu

Surat untuk Marsinah

Segera kutanggalkan badanku dan kukuburkan kepalaku
Semoga bisa menghentikan ingusku yang meleleh mengaliri kerinduan yang kau tinggalkan untukku

Masih teringat
Begitu sering aku tergeletak tak berdaya diantara susumu, telaga tangisku
Atau ketika aku bermain dengan mobil jerukmu sementara kau menguliti biji kacang sambil menyenandungkan siang

Waktu itu...sebelum aku menceraikanmu

Tiba-tiba sayup angin membawakan namamu
Umpatanmu...
Sentuhanmu...
Marahmu...
Ciumanmu...
Tapi kenapa menjadi lirih
Seolah kau tak rela aku merasakanmu lagi

Karena kau telah memutuskan untuk pergi
Kata pamit yang hilang kutelan dalam-dalam
Seperti kelereng yang sengaja kau sembunyikan begitu siang
Kau tak mau menunggu, bahkan sampai aku mengerti
Tentang Kala yang memakan bulan dan orang-orang yang memukul lesung bertubi-tubi
Bahkan sampai detik dimana aku masih menyembunyikan senyum di balik dusta perselingkuhan
Juga kata-kata najis di sela asap yang kuhembuskan ke mukamu

Gelap merampasmu dengan tangan-tangan perkasa
Bayanganmu tak mampu kukejar
Hanya tersisa bunga bakung yang terlindas mobil jerukku

Begitu pun malam ini
Mukenamu tergantung lusuh kecoklatan
Nyawanya ikut pergi bersamamu
Juga nyawa daster biru bunga-bunga merah jambu
Pun nyawa kesembuhan atas lukaku

Malam ini aku menantimu
Akan kutembangkan purnama
Penuh dengan Kala yang sudah kubunuh
Kusandingkan kembang ilalang dalam kepang rambutmu sembari bercerita tentang gerimis tangis Dewi Uma

Anakmu rapuh
Isaknya yang membisukan
Beterbangan bersama daun jati
Tempat kita dulu memagut hati

Sehabis Pertunjukan

Teriakan hanya tertinggal gema raungannya
Lelaki yang sedari tadi dipuja telah meninggalkan jejak keletihan
Sekali lagi pertunjukan harus berakhir
Di saat banyak dari mereka yang memohon untuk terus diperkarakan

Pada akhirnya kita berdua tertinggal sebagai peluh dalam oase kering
Menghela terik dengan kebisuan
Seperti kemarin dan lusa

Kengerian baru saja tercipta
Tepat setelah perhelatan diselesaikan
Kemudian ketika orang-orang pergi
Tidak ada lagi yang bisa membuka mulut kita
Tersedak kata-kata yang kian menggumpal di tenggorokan

Engkau pun tahu pasti
Lelah ini hanya akan mencumbumu sampai saat siang mempertemukan kita

Bahkan lelaki dengan lekuk tubuh indahnya tiada pun bisa mengusik
Lelaki yang bayangannya hilang dihabisi gedung-gedung berderet

Karena engkau tidak memujanya
Begitupun aku
Bersama kita terduduk
Mengharap orang-orang takkan pernah kembali
Dan siang ...
Siang akan bertahan sampai batas aura kesadaran kita sirna