Monday, August 08, 2005

ritus malam #1

satu dari sekian malam kali ini, kalimat kita tersamar
bermetamorphosa dalam sajak kebimbangan
berdesingan dipermainkan kudus dingin
dan para penonton yang bisu membelokkan arah jalan cerita
tidak seperti ketika kita menanti pagi kemarin lusa
nyala lampu kota malam ini terlalu enggan menjelma senja
hingga bayang-bayang masa tidak sempat tercipta

mungkin karena matamu terlalu sayu
atau jangan-jangan kita sedang mengkultuskan sesuatu

nafasmu bergetar
menebarkan ancaman menghardik perlahan
beberapa makluk kecil memburu langkah kembali ke lubangnya yang dalam
beringin tua yang menjelma dalam seikat camelia
pun hari ini bergesa berganti rupa

sebelum akhirnya kita memutuskan pulang menemukan rumah yang hilang
dimana kita berkehendak
menceritakan kejadian dalam prosa tak beraturan
sampai engkau tersirap
dan kesedihanku terselesaikan

Monday, August 01, 2005

terima kasih (untuk a.l.i.a.)

surau berdegup
dua garis cahaya pagi terhenti di tembok rumahmu
menceraikan kata dari inangnya yang tak sempat kau lengkapi
sesaat sebelum kita sadar
betapa semburat warna ungu mengekor dari kelopak bibirmu

ritus malam segera berakhir
karena sebentar lagi matahariku melumat fajar yang selalu kau benci
dan kita pun bergegas
menyiapkan sepenggal cerita kado perpisahan

sementara
kusembunyikan rona sesungging senyummu
dalam roman yang akan kubawa pulang
hingga suatu saat nanti
senja akan datang
mengantarkannya kepadamu dengan janji akan peri yang telah kau beri

unfinished

perempuan-perempuan bersendawa
membentangkan rayuan dari sudut dusta
pintu telah rapat dan gelap yang menyergap

perempuan-perempuan mulai menebar dupa
mendengus sumpah persembahan malam
meremukkan relung dipan keranda

kepada siapa aku mencari senyap?

mata mereka menghunus tragedi
menghukumku untuk takluk
dan menyimpan pertanyaan tentang sejarah penciptaan

altar dibersihkan
upacara tergesa dimulai