Nias...
Sekali lagi kau kenakan pita hitam
Diiringi lagu hening di sela sorai penonton
Bumimu goyah untuk kesekian kalinya
Saat malam mengguna-guna saudaramu dalam lelap
Dan air laut yang tenang mengalun
Sempurna oleh langitmu yang runtuh bergelimangan
Beberapa sibuk mencari arah
Ke hutan dan gunung-gunung
Tapi tidak engkau
Kakimu terlalu lemah berdiri
Terduduk di sudut gereja tak bernama
Di atas teriakan saudaramu yang telah mati
Telingamu berdarah
Kau tusuki gendangnya dengan pasak atap rumahmu
Sehingga kau pun tak lagi mendengar
Rintihan sanak yang melantakkan
Kau taburi matamu dengan kaca dan puing
Dan mayat-mayat kaku itu
Tak lagi bisa membuatmu ngilu
Akankah engkau terdiam
Tubuhmu masih saja menggigil
Gempamu bisa meratakan gereja di atasmu
Untuk kedua kalinya
Ketika kabut siang mulai hinggap
Ribuan mata memandangmu
Terduduk
Dalam pelukan jasad kedua orang tuamu
Diiringi lagu hening di sela sorai penonton
Bumimu goyah untuk kesekian kalinya
Saat malam mengguna-guna saudaramu dalam lelap
Dan air laut yang tenang mengalun
Sempurna oleh langitmu yang runtuh bergelimangan
Beberapa sibuk mencari arah
Ke hutan dan gunung-gunung
Tapi tidak engkau
Kakimu terlalu lemah berdiri
Terduduk di sudut gereja tak bernama
Di atas teriakan saudaramu yang telah mati
Telingamu berdarah
Kau tusuki gendangnya dengan pasak atap rumahmu
Sehingga kau pun tak lagi mendengar
Rintihan sanak yang melantakkan
Kau taburi matamu dengan kaca dan puing
Dan mayat-mayat kaku itu
Tak lagi bisa membuatmu ngilu
Akankah engkau terdiam
Tubuhmu masih saja menggigil
Gempamu bisa meratakan gereja di atasmu
Untuk kedua kalinya
Ketika kabut siang mulai hinggap
Ribuan mata memandangmu
Terduduk
Dalam pelukan jasad kedua orang tuamu

0 Comments:
Post a Comment
<< Home