bulan terpenggal di pembaringan
Menahan mendung di sudut mata si Buyung
Tatapannya seolah menembus ombak memandangi sampan yang membawa jasad bapaknya
Kesana, ke tengah lautan yang dibawahnya terdapat surga
Dimana ikan-ikan pari siap menjemput, berebut tubuh membiru itu
“Duhai Ibu, mengapa kau bunuh Bapakku?”
Mungkin lebih dari seribu kali pertanyaan itu dia ulang dan ulang
Pada jangkung akar bakau
Pada surut air laut
Pada pisau terkutuk
Pun pada rahasia yang tidak mampu dia pahami
Iblis telah bersekutu dengan ibunya
Diantar gemuruh aneh dari angkasa, dari langit tanpa bulan
Belum pernah si Buyung melihat ibunya
Hanya pada pagi buta dan bisikan lembut, “mimpi buruk telah berakhir, Nak.”
