Sunday, April 10, 2005

Hujan siang hari

Genteng rumah tetanggaku tidak lagi berwarna merah
Hujan siang ini mengalirkan hitammya
Hujan tanpa basah yang mampu mengairiku
Hujan yang berpuluh tahun lalu selalu kutunggu
Bersama perahu kertas di parit belakang rumah
Hujan yang menggigilkan saat malam-malam tiba

Namun tidak lagi

Kaca jendela dan jeruki besi memenjarakan tubuh
Air yang jatuh tinggallah sebuah awang-awang
Yang dipikirkan oleh intuisi tak berkesudahan
Membuatku terjerembab
Mencari ruang kosong
Mengisi dan memenuhinya dengan berbagai alasan

Alasan yang direka daun pepaya mengetuk jendelaku
Alasan yang belum sempat diceritakan genteng hitam tetanggaku mengalirkan hujan

Dalam sebuah bingkai persegi aku memandangi
Burung prenjak kuyup di sela jeruji
Menyampaikan kesegaran dalam tubuh bergetar

Haruskah aku berlari lagi
Mengejar perahu kertas yang tenggelam oleh riak

0 Comments:

Post a Comment

<< Home