Hujan siang hari
Genteng rumah tetanggaku tidak lagi berwarna merah
Hujan siang ini mengalirkan hitammya
Hujan tanpa basah yang mampu mengairiku
Hujan yang berpuluh tahun lalu selalu kutunggu
Bersama perahu kertas di parit belakang rumah
Hujan yang menggigilkan saat malam-malam tiba
Namun tidak lagi
Kaca jendela dan jeruki besi memenjarakan tubuh
Air yang jatuh tinggallah sebuah awang-awang
Yang dipikirkan oleh intuisi tak berkesudahan
Membuatku terjerembab
Mencari ruang kosong
Mengisi dan memenuhinya dengan berbagai alasan
Alasan yang direka daun pepaya mengetuk jendelaku
Alasan yang belum sempat diceritakan genteng hitam tetanggaku mengalirkan hujan
Dalam sebuah bingkai persegi aku memandangi
Burung prenjak kuyup di sela jeruji
Menyampaikan kesegaran dalam tubuh bergetar
Haruskah aku berlari lagi
Mengejar perahu kertas yang tenggelam oleh riak
Hujan siang ini mengalirkan hitammya
Hujan tanpa basah yang mampu mengairiku
Hujan yang berpuluh tahun lalu selalu kutunggu
Bersama perahu kertas di parit belakang rumah
Hujan yang menggigilkan saat malam-malam tiba
Namun tidak lagi
Kaca jendela dan jeruki besi memenjarakan tubuh
Air yang jatuh tinggallah sebuah awang-awang
Yang dipikirkan oleh intuisi tak berkesudahan
Membuatku terjerembab
Mencari ruang kosong
Mengisi dan memenuhinya dengan berbagai alasan
Alasan yang direka daun pepaya mengetuk jendelaku
Alasan yang belum sempat diceritakan genteng hitam tetanggaku mengalirkan hujan
Dalam sebuah bingkai persegi aku memandangi
Burung prenjak kuyup di sela jeruji
Menyampaikan kesegaran dalam tubuh bergetar
Haruskah aku berlari lagi
Mengejar perahu kertas yang tenggelam oleh riak

0 Comments:
Post a Comment
<< Home