Wednesday, March 02, 2005

dunia

terkadang ingin pula aku berhenti melihat ke depan diam menunduk
mengais sisa hujan tadi pagi dari balik lembaran-lembaran tanah merah yang sudah tidak lagi merekah
menuai pucuk-pucuk mimpi perkasa setia
selalu keraguan menyergap di ujung lorong berkelok menelikung sesak dan angkuh
tapi di sini aku yang mentukan bagaimana yang seharusnya

1 Comments:

Anonymous Anonymous said...

dunia acapkali hina
caci maki dan ratapan kronis meraung di sepanjang lorong ketidakberdayaan
metamorfosa waktu yang tiada bertitik
menyisakan remah keraguan di setiap petak pijakan
tak pernah surut akan misteri
terus membusuk dan mengendap
menanti tuk segera terkuak
dan biarkan mata hatimulah
yang 'kan menggores sayatan luka mati rasa
dan mengoyaknya menjadi bulir-bulir keyakinan

6:15 AM  

Post a Comment

<< Home