Saturday, January 28, 2006

berkebun

minggu masih pagi
mari kita beranjak
ambilah topi bundarmu dan aku akan menghampiri sabit
karena kita akan berkebun kali ini

lihat, bunga-bungamu telah nelangsa
pun batang tomat yang selalu lupa kita pupuk

lalu dengan hening yang sekejap, kau mengambil gunting
memangkasnya bertubi-tubi
sebelum kemudian kurenggut tanganmu

jangan!
ijinkan aku menyiramnya

Sunday, January 15, 2006

kita mencurinya, kemarin

ada yang menjalar dalam guratan tanah merekah
malam tidak cukup dingin untuk menyumpal rongga-rongga besar
demikianpun sesalan air karena minggat dari sendang untuk sia

ketika dahaga kemudian menyampaikan pesan esok yang tidak lagi menyapa
segala riuh hidup dengan sebuah kata tanya, kemana

disini,
dimana seonggok senyum purba menjura melumat bumi meneggak langit
karena ingatan yang kemarin
sesal yang tidak pernah berjanji

Wednesday, January 11, 2006

selamat ulang tahun (untuk m.i.a.)

bukan pada angsa yang lupa mengepakkan sayapnya
bukan pula pada langit yang tak kuasa menahan sesak air membeku
hanya pada sebuah waktu ketika kita dilahirkan untuk saling mebisu
dan kata maki yang bergumul di tempayan retak

belum sempat jejak kaki membatu dalam jalan-jalan melelahkan
kau menyergapku dengan dengan sebuah kenangan yang belum sempat kusembunyikan
ketika janji kita terantuk gelisah
lalu harapan yang selalu dibawa kabur kabut pagi terburu
waktu itu, ketika yang dua masih satu

tiba kemudian angin berseloroh
tentang senja yang memerah dan ungu pelangi
di atasnya kau membaringkan duka
ditemani peri-peri kecil menyulam mimpi

hari ini kau dilahirkan kembali
untuk menjalin rahasia dengan malam ketika gelap
dan sebuah rekaan jalan yang berujung
di sana
dimana kau akan pulang
pada sebuah pondok kecil dan belibis yang berteduh di terasmu

biarlah dingin yang gagu menyampaikan rinduku
menyiangi bongkahan bara di perapianmu

Tuesday, January 10, 2006

dan langit yang mulai gelap

sudah kugulung jalan pulang dalam sebuah lembar panjang
di dalamnya, beberapa senyumanmu tertumpuk menindih
baru saja
ketika senja mulai bergerak berarak

aku akan mengejar angin
membungkusnya untuk bisa lekat kauhirup
lalu sudah tidak ada lagi pesan yang selalu dikabarkan langit kemerahan
karena deritamu telah sia-sia

selamat tinggal duhai engkau yang tak terlupakan
kembang kertasmu mulai layu dan dahaga

Saturday, January 07, 2006

embun

ada embun mengucur lambat
menggelinding berbulir-bulir
kemudian tak sengaja aku melindasnya
dengan putaran yang berat

hei, ini tubuhku!
kenapa kau paksa aku mengayuh tanjakan
kakiku sudah basah, dadaku sudah berkarak

di depan sungai telah meluap
ribuan embun bersekutu mengurung sebelum belokan
dalam gejolaknya, janjimu menyembul mengajakku tenggelam
dalam gejolaknya, kau lukis kematian dengan indahnya
dalam gejolaknya, aku pun tergoda

hanya satu bulir masih lekat
menyetubuhi jasadku yang porak
sebuah pagi dan yang harus berakhir

Sunday, January 01, 2006

kali ini pagi terlambat pergi

lalu pada perayaan yang tertinggal dalam terompet koyak
hujan mencabiknya berkali-kali
sebuah tatapan masih saja menggelantung langit

seseorang di sana mulai mengutuki pagi yang tak kunjung pergi
sementara nafas-nafas amis menenggelamkan yang lain
di sudut bulan tua, gundah memilih kata perpisahan

kau merayu api menanggalkan selimutnya
bersama sebuah pelukan dari kekasih tuamu
mendayun mimpi di balik mega-mega

dan cerita lalu hanyalah barang antik
kita sembunyikan bersama saudaranya
di dalam peti tua dengan kerak yang mulai lapuk
dengan sumpah yang mengunci pintunya

apakah hujan akan berhenti pagi ini?
gelisahmu lebih menghanyutkan
karena secarik rahasia tidak juga mampu kita jaga
karena bunga-bunga api begitu cepat padam
pun perawan yang mulai membuka mata


tidak untuk kali ini, sayang
aku telah jatuh cinta pada gemuruh hujan
di timur cakrawala
bersama langit membungkam mataharimu