Wednesday, June 15, 2005

roda kecil

roda kecil mengerik
berkejaran dengan siluet terang yang pasti terkalahkan
banyak yang binasa tergilas di atas lempeng hitam legam

satu dua orang tertawa mengutuk
nanar pecah sudah
rona sore dengan gerimis kecil punah
hanya hamparan wajah-wajah penuh minyak dan lemak
mendenguskan sisa cerita esok pagi

bagaimanapun juga berpasang-pasang roda kecil hanyalah jongos yang angkuh
yang acuh dengan bau busuk wajah penuh minyak dan lemak majikannya
pun onggokan mayat yang telah dibunuh

lampu beranda dan tuannya

nyala lampu mengiba di kejauhan
beranda dengan kursi bambu dan kopi yang telah dingin

nyala lampu muram mengadu
ditinggalkan sang tuan bercinta dengan kekasih gelapnya

dia melirik
memecahkan sekat jendela keretaku
sesaat aku menghampiri

bercerita tentang sisa hidupnya di beberapa malam mendatang
mencoba tetap hidup dengan sedikit tenaga

menurutnya, sang tuan bisa saja mangkat tanpanya
begitu saja...

sesaat keretaku menyeret pergi
nyala lampu di kejauhan meredup
menghadirkan lolongan pajang perempuan sundal
terantuk tubuh kaku di kegelapan

senen 18:00 (untuk a.d.e.k.)

perkelahian baru saja usai
preman ingusan dan seorang jawa penjaja minuman
aku menyelidiknya
dari balik koran selimut tidur
di atas bangku kayu jalur tiga peron selatan

jengah oleh lelah yang mengaliri lantai membanjir ke ujung-ujung tubuhku
lalu engkau bersandar di sela relung besi tua peninggalan belanda
mengajakku tamasya
ke pantai dan lorong-lorong kamar pengap
bersama lagi mengejar harapan palsu masa lalu

kau membujukku dengan senyuman kecut penuh ragu dan candu
di stasiun senen kembali kita membasuh luka dengan cerita
menuliskan sejarah tentang rumah dan sebatang pohon kelapa

beberapa fragmen kenangan menyalakan kecemasan
di hulu malam dan langit jakarta yang mulai goyah
sekian lama setelah orang-orang ramai berebut peran
menjadi penghembus dendam berkepanjangan

esok kita akan bertemu
di ranah jawa tampat moyang mewariskan dongengan
karena aku harus kesana
malam ini
meninggalkanmu untuk kesekian kalinya

bersama nafas teakhir seorang preman ingusan
aku menelanjangimu dengan tatapan yang kian berjarak
di atas kereta yang akan kutunggu
suatu hari kelak