Tuesday, September 28, 2004

sebuah purnama dan gereja tua

ritus malam segera dimulai
ketika redup lampu sorot tertimpa kolom-kolom angkuh, sombong
purnama tenggelam
kegerahan memistiskan suasana
bangku-bangku membisu kaku oleh mulut-mulut yang beku
romantika masa lalu hadir dalam keperkasaan sebuah gereja tua
sebuah kota kuno
sebuah perjamuan agung
suara menggelepar sesaat dan hilang
sayup-sayup terdengar repertoar lama dimainkan
tantang bumi dan manusia
tentang damai dan dusta
riuh yang memecah ternyata tidak mampu meleraikan ambigu
kebingungan datang untuk kesekian kalinya
keindahan malam ini apakah bukan karena engkau, kekasihku
tersadar kita pun berdiri
melangkah membumi
masih dengan lampu-lampu sorot yang kian redup

Sunday, September 26, 2004

sebuah neraka

siang membakar bak iblis murka
keterpasunganku mulai sakit dan luka menganga
kapankah sabitanmu akan kauhentikan
apakah hingga saat aku lemah dan menyerah
kerasukanmu menyesakkanku sayang...
perlahan candu ini menghimpitkan labirin otakku
sebelum akhirnya kegilaan menyergap
sadarlah sayang...
siang masih sangat panjang
bahkan hingga akhir jaman

sebuah pesta

pecahan gelas kristal masih terserak diantara arak
aku hanya duduk di tepian, membelakangi...
pesta baru saja dimulai
tapi kenapa onak telah begitu sesak?
oleh nada-nada sumbang yang renyah terdengar
menghadirkan kengerian
mungkin...
perhelatan kali ini mungkin tak akan sempurna
hanyalah boneka-boneka tertawa di lantai dansa

Wednesday, September 22, 2004


dalam sebuah rongga diantara rumput liar dan salju yang gundah kuajak kau mencuri mimpi sang widhi .. memburunya sampai saat esok telah enggan berkunjung lagi Posted by Hello

sebuah jalan dan tiga ruang

bahkan daun-daun itu belum terlalu tua untuk diterbangkan angin
aurora masih menyala dengan amarah
namun kau telah menggandeng tanganku
perlahan menapaki kelu dalam ruang waktu
kau tahu, aku seorang durjana
sembunyi di balik hujan kata-kata
mengintip sejenak hanya untuk sekadar menebarkan muslihat
apakah lidah senja telah mengaburkan kesadaranmu
saat kuajak engkau membakari matahari
sore ini ...

Tuesday, September 21, 2004

sebuah sore bersama rully dan shinta

aku tidak pernah menjebakkan diri
namun ternyata sudah terlambat untuk menyadari
bahwa aku telah terperangkap
dunia awang-awang yang sesaat lalu hanya menggantung di kejauhan
sesaat menghardikku pelan
sampai sempat terpekik dan hilang

Monday, September 20, 2004

sebuah alasan

adakah alasan sehingga engkau tidak menghunus pisaumu
dan menusukkan ke jantungmu
adakah alasan kita tidak bertegur sapa
dan membiarkan dingin membekukan bibir