Saturday, September 17, 2005

ritus malam #2

bolehkan aku menonton televisi di rumahmu
karena ada tayangan sepak bola malam ini

bolehkan aku mengambil segelas air putih di dapurmu
karena sehari ini aku begitu dahaga

bolehkah aku bersandar di sofa ruang tamumu
karena tubuhku terlalu lelah untuk berdiri

bolehkah aku menginap dan meminjam selimutmu
karena di luar sana malam terlalu dingin

bolehkah aku mengecup keningmu
karena aku mencintaimu dan pagi telah datang

dan malam pun cemburu (untuk ivana)

lalu kita menuangkan air mata ke cangkir kopi yang telah kosong
melumarkan kenangan teraduk sedak isak mengharukan
sesalmu yang selalu kunanti ternyata tidak juga bersua
hanya lagu sumbang pengamen jalan serta jagung bakar yang telah beku


besok mungkin aku sudah tidak bisa menyisakan senja untukmu
dan apakah kau harus menanyakan pada amis gerimis dimana aku menambatkan bulan
hanya untuk meminjam sepotong malam
pada sebuah panggung perayaan dan lampion menyala terang


matamu masih menunduk
di tikar koyak kau melukis artefak jalan (yang tak berulang)


sempat terdengar kau meneriakkan namaku saat mulai kehilangan dan memutuskan memutar haluan
ketika kau temukan jam pasir hadiah ulang tahun tercecer dari lenganku pasrah
beserta wangi para pemuja yang merampasku pergi
ke dunia
ke tempat mimpi-mimpi tidak tidak untuk diikrarkan

Wednesday, September 14, 2005

tarian api

lingkaran api membesar, merah, gerah
menggulungku dengan lidah yang tidak menyerah
di ujung-ujungnya, perempuan sundal menghembuskan gairah dengan amarah
menghasut dengan bujuk rayu buah surga rana


aku terbakar oleh nyala yang hangat menggoda
tubuhku remuk, ruhnya beterbangan mencari pintu keluar
bara yang mulai menyelimuti dengan gumpalan peluh mengerang kegirangan

bersama malam penghabisan, aku ditarikan api
wujudnya merona menyembunyikan raut ranum tipu dan candu
mengusung tanda tanya tanpa pertanyaan

liukan goyah karena gerak mulai kehilangan rancak
padam akan menghempasku serupa lebur
menunggu sebuah lengguhan terakhir sebelum senyap
dan orang-orang bertepuk dan orang-orang bersorak

Tuesday, September 13, 2005

jendela masa

jendela persegi di sudut ruang, gelap dan berdebu
kehidupan di luar hanyalah sebatas gambar-gambar bergerak tanpa arah
aku masih mati tersekat dari asap dan daun kelabu

di sana pabrik dan mesin-mesin berisik berdegum berulang-berulang
menyemburkan tinta berwarna hijau keperakan
cerita sejarah masa depan bagi penghuni semakin sesat

aku masih mati
dalam ruang pengap dan kontrak kehidupan yang sudah kadaluwarsa
menjadi tanda-tanda keangkuhan
suatu saat ketika engkau sarapan pagi, nanti

orang-orangan sawah

jejak pohon beringin masih tergambar di baju, meski kuyu tapi kutahu itu biru
mungkin itu baju seragammu dulu ketika pagi kau menjadi guru di sekolah seberang kali
mungkin pula sawahmu sudah lama kering, sehingga kau terbujuk untuk kembali menyiangi lagi
yang jelas seragam korpri itu berkibar
membalut orang-orangan sawah di tengah kerumunan pohon padi

beberapa burung tak gentar merampas bulir-bulir padi dari tangkainya
beberapa lagi malu-malu mencuri dari belakang
ada seekor prenjak yang bertengger pada capingmu,
membubuhkan noda pada tubuhmu

orang-orangan sawah hanya bergeming
pada semilir angin menghembuskan dedak membatukkan

orang-orangan sawah tetap saja hening
bagi burung prenjak yang tidur siang selepas makan

cerita sepotong di angkringan

kau memesankan untukku satu gelas lagi
kopi yang pekat dan pahit yang hitam
di atas piring beberapa tempe mendoan menyisakan bara kemerahan

tiba gilirannya asap sudah mulai tebal dalam kulumanmu
menandakan kebisuan malam dimulai tepat pada waktunya

lihatlah segerombolan takziah di ujung sana
bergumam dengan kata-kata pelan penuh dendam
atau beberapa sanak terlibat perseturuan di ujung kanan, tidakkah kau dengar?
berapi-api mereka meneriakkan kata cinta
berbunga-bunga kita melukiskan duka

tidak menunggu waktu dan anggukan kita beradu
sebuah pesan 'selamat tinggal'
di hari kemudian,
sebongkah arang mengambang di ujung gelas
bangku terkulai, tikar dalam gulungan
tanpa bara yang menyala
pun kebisuan yang merindukan

bayangan code

aku bercanda dengan terik di atas code mengalir busuk
entah untuk kali yang keberapa matahari menyengatiku
yang kutahu tubuhku sudah melepuh penuh peluh


sempat berniat melukis bantaran dengan imaji yang terlunta-lunta
namun urung oleh ketukan membabi buta


seorang gadis mungil dan galah di tangan kanannya
mengait bayangan yang kutebarkan
mengumpulkan beberapa ke dalam plastik hitam yang semakin berat
lalu dia berhenti
pada sebuah bayangan berwarna terang
sesaat ia ragu melepaskan kaitannya, sebelum menoleh padaku penuh curiga
apakah gerangan bayangan berwarna terang?


code menderas
sebuah galah terseret menuju hilir
berpacu dengan bayangan gadis kecil
yang ditenggelamkan matahari sore

percintaan di unjung gang buntu

gempa mengguncang keriuhan
aku terhenti di sebuah gang senyap
bersama sekelompok obade dan genderang bisu
siluet lampu penuh ragu mendesing
bak kata-kata cinta seorang pendusta


beberapa lapis harapan tertumpuk rapi
membangun tembok kokoh di ujung jalan buntu
isyarat yang lupa ku terjemahkan pada akhirnya harus dibayar mahal
tidak cukup satu atau dua malam


kejayaan oleh detak jarum waktu mendramakan rindu
akan sayap hangat yang tak juga kembali
menjaga sesenggal tangis masa kecil


tidakkah engkau akan hadir kali ini, menghentikan laju penatian?

masih seperti kemarin senja dan matahari yang gersang
lagi-lagi percintaan kita tertunda
untuk kali yang kesekian

Monday, September 12, 2005

kesaksian hujan bulan september

kau menggandeng tanganku saat kita mulai menapaki malam yang masih perawan
berdua, kita mencumbunya dengan syair sedih yang didendangkan orang-orang kesepian
lukisan embun mengendap di sela tanah merekah bercampur dengan anyir lelah yang sudah

sebuah rahasia percintaan dalam agenda usang yang tersibak
dengan nafas menggebu kita merangkai tulisan tanpa kata
membubuhkan tanda di kekosonngan yang menggelisahkan
dan jejarimu mulai menggores sebongkah tubuh kaku
mengingatkan pada roman asmara kala dan selir-selir durga

di ujung semburat cahaya yang memekakkan itu, kita akan membingkai mimpi kali ini
ketika jalan telah menemukan arah dan pelukanmu yang mulai goyah
sementara aku masih tergagap untuk rencana yang begitu tiba-tiba, sapamu menyampaikan duka

kau meninggalkanku sabelum persimpangan terlewati
bersama hujan kering di bulan september, aku menduga-duga arah
mengendus bau tubuhmu yang tertinggal di pembaringan tua

untitled

tubuhku terayak, terbelah, terpotong ke dalam sekian partikel kecil
semalam, seseorang mencuri pengikatnya
jangankan maksud tatapannya, kata-kata pun tak mampu terdengar
sejak logika berpisah terlampau jauh dengan rasa
semalam, setelah tangisan terakhir

Saturday, September 03, 2005

kepulangan

04:00, selamat pagi pak man
aku pulang untuk sebuah pertanyaan yang tak terselesaikan
mungkin di rumah aku bisa menemukan jawabannya

ziarah

aku yakin di antara kemarin, ada matahari tidak tenggelam
baru saja matamu tergagap menyampaikan pesan fajar esok lusa
lalu kenapa kau menanyakan kabar malam yang telah ditinggal mati kekasihnya?
dari kajauhan pun kita telah mendengar
sedak suara bangku oak menggurat tubuh para pendatang kesepian

sebaiknya kita menapak
mengumpulkan kemenangan terserak sampai ujung

pegang tanganku, kulumat roman di sela bibirmu
kali yang ini kita akan mengalah
untuk sebuah perayaan yang tertunda, kuajak kau berlari
sekali lagi kita bakari matahari

Friday, September 02, 2005

sisa perjamuan

ikatan rambutnya buyar
dua helai terkulai di lantai senyap, mengambang di genangan semalam
berjinjit menghindari lingkaran-lingkaran kelam, dia menghela perlahan
bait pertikaian yang tak kunjung redup, meredam
api tak sengaja membinasakan sekam
tempatnya menimbun mimpi-mimpi di kala pagi
dan apakah asap ini bisa dirangkai kembali?
retas yang tidak sempat tuntas membujuk ragu
harapan telah menjelma dermaga tanpa kapal pun angsa-angsa
di tepian, tubuhnya terdampar
namun tak ada yang dapat diceritakan pada orang-orang di kerumunan
kecuali kuncup gelung di rambutnya