Tuesday, August 29, 2006

bulan terpenggal di pembaringan

Telah sejak malam yang terakhir, kaki-kaki langit tak kuasa lagi
Menahan mendung di sudut mata si Buyung
Tatapannya seolah menembus ombak memandangi sampan yang membawa jasad bapaknya
Kesana, ke tengah lautan yang dibawahnya terdapat surga
Dimana ikan-ikan pari siap menjemput, berebut tubuh membiru itu

“Duhai Ibu, mengapa kau bunuh Bapakku?”
Mungkin lebih dari seribu kali pertanyaan itu dia ulang dan ulang
Pada jangkung akar bakau
Pada surut air laut
Pada pisau terkutuk
Pun pada rahasia yang tidak mampu dia pahami

Iblis telah bersekutu dengan ibunya
Diantar gemuruh aneh dari angkasa, dari langit tanpa bulan
Belum pernah si Buyung melihat ibunya
Hanya pada pagi buta dan bisikan lembut, “mimpi buruk telah berakhir, Nak.”

Thursday, August 10, 2006

pada perhentian

malam menjelma beku
begitu juga laku yang tiba-tiba terhenti
bukan karena jam dinding jarumnya patah
bukan pula percakapan purna

lalu kau mulai menyesal menceraikan tubuh
belum lama kita berselang jalan

wahai engkau yang telah membunuh api
teruslah bersembunyi
dalam piyama abu-abu terkulai

denting piano melambatkan ketukannya
lagu sedih yang terakhir
dan pada genangan di sudut matamu, kau merajuk
hentikan! hentikan!

Tuesday, August 01, 2006

telahkah pagi lupa? aku sungguh mencintainya

tak bisa kunikahi malam
dengan pagi aku telah berahasia

tanah yang merekah dan hujan jatuh di tepian