Wednesday, February 22, 2006

angkara

Di atas meja logam berukuran besar, tergeletak dua cangkir dosa tak berbilang
Sebuah janji yang harus dilanggar
Pada malam muda mula riuh berakhir senyap

Masih terdengar jerit logam cuil disayat luka
Sejak angkara membebat logika
Sekejap saja kau merelakan bangku pada dingin
Papan-papan penunjuk layu
Juga kata cinta masa lalu

Dan kau pun akan menempuh jalan seberang
Dan kita pun tidak perlu berpaling
Sampai pada hari kisah kita dituliskan kembali

Sunday, February 12, 2006

perjamuan terakhir

sebuah dawai bergetar berat
mencoba menahan darah mengucur dari pinggangnya
perjamuan terakhir terlalu cepat berakhir
sedang baginya, pertunjukan tidak akan pernah menjadi sempurna
pun malam ini
dimana kebisuan menjadi asing

saat kemudian para penari menapaki tangga panggung
lampu-lampu sorot padam, dan gelas-gelas terguling
masih terdengar kecapi berbunyi
lembut menyayat
jasad-jasad yang sudah tidak bisa lagi berziarah
pada kemarin lusa
kita bersekutu dengan gelap

hentikanlah senandungmu!
karena telah tiba giliranmu