Sunday, May 21, 2006

tentang dua capung

dua capung menderu
angin ribut menyertai lajunya
menderum selayak pesawat-pesawat kecil nipon meneriakkan tora tora tora

entah karena langit yang mulai pekat atau belenggu galau yang dibawanya terbang
capung-capung itu tidak pernah mengendurkan sayapnya, sekalipun hanya untuk mengambil nafas

ilalang di sehamparan padang merasa heran
baru kali ini mengurungkan niat
menawarkan ujung-ujungnya bagi khalayak beristirahat
karena badai telah membuat tungkainya ngilu, tunduk mencium tanah
badai dibawa dua capung yang telah lupa kekuatannya

seperti ketika ksatria membelah laut dalam misa sabtu sore
ladang kering itu telah menunjukkan jalan
kesana, kearah yang merah masih perkasa

ini tentang rumahnya yang dibakar tadi siang
juga tentang anak-anak mereka terburu binasa sebelum sempat belajar terbang

tanpa tangis, dan sedu berkepanjangan
pupuslah suratan takdir
dalam hikayat sebuah perjanjian lama

ke barat
kesanalah dua capung menuntut keadilan
pada matahari yang bersembunyi di balik awan
sebelum akhirnya malam datang menjemputnya pulang

1 Comments:

Anonymous Anonymous said...

You have an outstanding good and well structured site. I enjoyed browsing through it »

5:49 AM  

Post a Comment

<< Home