Saturday, December 31, 2005

menunggu binasa

di timur yang jauh
berderet-deret dalam barisan rapih
matahari baru yang tak kunjung bersua
dan kita ...


diam dalam hening pengharapan
tanpa doa pun pujian-pujian
menyilakan mati semakin dekat dengat terompetnya


akankah kita senantiasa melepaskan kesadaran
membiarkan tubuh-tubuh retas oleh waktu sedikit sisa
berteriak, bersorak
menyambut binasa yang dibawa cahaya pagi


sudah sejenak lalu kita mengagungkan enggan
dan setahun lagi kita terbunuh dengan perlahan


esok hari bukanlah hari baru maka renggutlah ruhku
sebelum yang lain

Tuesday, December 06, 2005

percakapan ilalang pada hujan

ada sakit dibawa bongkahan hujan terkulai
di balik saku bajuku, wajahmu menggenang
rona yang kembali sendu
sejak kita menyembah jam dinding yang lupa berdentang pun lantang
dan aku di sini
berjarak dalam ribuan kata-kata bisu
diayun jarum waktu mengitari hutan batu
namun rawa kita tetap kering
meskipun telah sedari tadi kita menuangkan air mata
sampai akhirnya ilalang mengiba pada langit
kembalilah