Thursday, August 10, 2006

pada perhentian

malam menjelma beku
begitu juga laku yang tiba-tiba terhenti
bukan karena jam dinding jarumnya patah
bukan pula percakapan purna

lalu kau mulai menyesal menceraikan tubuh
belum lama kita berselang jalan

wahai engkau yang telah membunuh api
teruslah bersembunyi
dalam piyama abu-abu terkulai

denting piano melambatkan ketukannya
lagu sedih yang terakhir
dan pada genangan di sudut matamu, kau merajuk
hentikan! hentikan!

1 Comments:

Anonymous Anonymous said...

aku baca berulang
aku ga ngerti...

tapi

aku kan harus slalu mengerti

^dungu mode on^
-crushdew-

12:39 AM  

Post a Comment

<< Home