Wednesday, May 24, 2006

tanda-tanda

sudah ada tanda-tanda saat lima matahari mengitari kepalaku

dari ujung jejariku keluar nanah memijar
tidak seperti ketika nyala korek api yang membakar
kemarin kau menyulutkan sebatang padaku

tubuhku beku oleh larik-larik silau cahaya
guruh menjungkalkan bumi dalam kepingan kecil
lagi-lagi kau mengeluarkan pena dan kitab usangmu

sudah ada tanda-tanda
dimana laut tiada lagi bertepi
sedang kita masih sibuk bertengkar
tentang siapa yang awal

tidak juga kau
pun aku

Sunday, May 21, 2006

tertinggal dalam mimpi

Pada sebongkah senja, dimana para malaikat dikuburkan
Tangis gerimis tidak lagi membawa duka
Pipit-pipit kecil menyembunyikannya di balik sahara

Lalu kau bertanya
“Dengan sayap siapa, Aku akan terbang?”
Pelangi terlalu tinggi untuk didaki

pada sebuah panggung

Ruang yang menyempit semakin jejal
Oleh asap candu tubuh-tubuh bergelimpangan
Mengambang dalam peluh menggenang

Di ujung sana
Pada sebuah panggung dan kain hitam
Bara dupa dan kemenyan bersekutu merajam setiap rongga dada

Mereka teriak!
Kita sontak!

Darah mengalir dari kehidupan yang purna
Saat manusia menjadi anjing liar dan yang kuasa telah ditikam

Lalu kita pun merapatkan barisan
Menghunus nyali bersembunyi

Namun kali ini adat telah dilanggar
Karena pertikaian tidak juga segera usai
Anyir darah terlalu banyak yang sia

Sedang panggung masih angkuh
Dan kita masih saja berteriak, “Bunuh!”

Di atas nisan perempuan sundal
Sanjak-sanjak kematian menerobos gelap
Pada jasad koyak dan lerai yang sesaat

tentang dua capung

dua capung menderu
angin ribut menyertai lajunya
menderum selayak pesawat-pesawat kecil nipon meneriakkan tora tora tora

entah karena langit yang mulai pekat atau belenggu galau yang dibawanya terbang
capung-capung itu tidak pernah mengendurkan sayapnya, sekalipun hanya untuk mengambil nafas

ilalang di sehamparan padang merasa heran
baru kali ini mengurungkan niat
menawarkan ujung-ujungnya bagi khalayak beristirahat
karena badai telah membuat tungkainya ngilu, tunduk mencium tanah
badai dibawa dua capung yang telah lupa kekuatannya

seperti ketika ksatria membelah laut dalam misa sabtu sore
ladang kering itu telah menunjukkan jalan
kesana, kearah yang merah masih perkasa

ini tentang rumahnya yang dibakar tadi siang
juga tentang anak-anak mereka terburu binasa sebelum sempat belajar terbang

tanpa tangis, dan sedu berkepanjangan
pupuslah suratan takdir
dalam hikayat sebuah perjanjian lama

ke barat
kesanalah dua capung menuntut keadilan
pada matahari yang bersembunyi di balik awan
sebelum akhirnya malam datang menjemputnya pulang