Friday, October 28, 2005

nocturno sore hari

masih sore
bulir-bulir hujan masih kentara di balik cahaya matahari

lusamu terburu datang
diiring nocturno yang belum saatnya diperdengarkan
tentang kepada siapa aku akan membagi mimpi, kelak

apakah sengaja kau meninggalkan bayang di pagiku yang kemarin
aku telah berduka, engkau pun tahu

sebuah roman celoteh terik dan jalan-jalan panjang telah bertemu epilognya
sebelum sempat beradu di pembaringan dan taman bunga
kemudian aku meminta malam untuk tidak padam
karena aku belum menyiapkan sebuah sanjak yang terakhir

masih sore
hujan telah mengantarkan sebuah kecup penghabisan

Friday, October 21, 2005

camelia

ada jerit memekik dari kelopak camelia di taman bungamu
terhuyung tubuhnya menahan rombongan angin permisi lewat
lalu pada rawa, ada langit yang mengaca

memoar senja

hatinya merusuh sejurus peristiwa senja membidikkan mesiu masa lalu
rekaan mozaik-mozaik sekerat wajah tersusun kembali
sketsa tergesa dianakkan buku agenda dari ruas laci berdebu
dalam sebuah bingkai biru dan senandung merah jambu

“kemanakah hendak kau bawa mimpiku pergi?”
laut masih surut begitupun layar belumlah terkembang
barusan camar-camar kecoklatan beringsut mengunci pintu sarang
di dermaga kota lama dan sejurai liontin retak dalam genggaman

di sana ada rumah kecil dan perapian yang masih menyisakan bara

ricik riuh pergumulan berakhir dengan goresan pada gelas terpelanting
desau asin angin tak juga menawarkan pilu
hanya rintih tatapan coba menerobos kabut dingin yang mulai luruh
ke sana
ke arahnya yang tengah menanti wahana akan menjemputnya ke seberang

lalu datang kabar duka itu

Tuesday, October 18, 2005

repertoar hujan

ada hujan tiba-tiba menyergap tanah di ujung kemarau resah
angin yang telah kerasukan menghantarkannya menyapa jendela kamarku suatu malam
mengetuk-mengetuk membabi buta

semestinya bulan penuh kali ini
namun mungkin aku harus menunggu awan yang begitu hitam menghabiskan tangisnya
dan cahaya bisa menunjukkan arah jalan menuju rumahku
pun kabar gembira yang disampaikan senyap pada daun pintu yang lupa berderit

seorang lelaki masih duduk di atas kursi rotan
memandang keluar menyibakkan hujan berderai
di sana
mataku tertuju pada jejak-jejak tak terhapuskan

di balik dingin yang menyingkap tirai jendela, aku membunuh siang
belum juga kudengar ketukan pada pintu yang dahaga
menanti terbuka dengan harapan yang terlanjur sesal

seorang lelaki mencoba merangkai kenangan
ke dalam kata-kata terbata dihanyutkan air mata
melukis jejak-jejak baru perjalanan duka

di atas kursi rotan, bilakah cerita akan menjadi sudah
karena bukan pula hujan sanggup menghapusnya

Monday, October 17, 2005

badut-badut

badut-badut bersolek
dengan
pastel dan cat minyak, membubuhkan lingkaran dalam bulatan besar
bibir-bibir yang basah meskipun mulut-mulut tidak pernah terkatup

keluarlah darinya mimpi dan ilusi tak henti-henti
di sana dan di sini
mengurung arah kemana aku bisa menjelajah

badut-badut menjelma
bersetubuh denganmu, dia, kami, kita, mereka, orang-orang dan yang lainnya
bersekutu menyudutkanku ke ranah asing
dengan tawa dan hentakan nafas aneh siap mengulumku

tidakkah tubuhku sudah telanjang untuk lagi-lagi ditelanjangi?
rupanya marut
janganlah lagi dihukum dengan tatapan-tatapan begitu legam
cacatnya rana
tidaklah perlu diseka dengan dusta

hentikan! duhai yang tidak memiliki kata ganti

badut-badut yang menanggalkan kepala
mengirimkan pesan kematian yang selalu tertunda
sampai kemudian aku akan menyadari bahwa sudah terlalu lama aku pergi

Tuesday, October 04, 2005

mati kata

ribuan lintah menyesaki mulutku berebut kata yang belum terucap
serak parau lidah koyak

udara di luar juga bisu oleh bingar tak terdengar
ada desir yang mengerik pelan menyela katup bibir

namun hanya itu, karena di detik berikutnya ia hanyalah jasad yang menggelepar

lalu kata-kata berdatangan berebutan bilik yang tersisa, meski telah tiada
lintah yang mati, pun cacing-cacing busuk tahi kata-kata

Saturday, October 01, 2005

04:30

apakah hanya dingin yang berkenan memelukku
dan cekungan ampas kopi yang bersedia menampung lelahku