dan malam pun cemburu (untuk ivana)
lalu kita menuangkan air mata ke cangkir kopi yang telah kosong
melumarkan kenangan teraduk sedak isak mengharukan
sesalmu yang selalu kunanti ternyata tidak juga bersua
hanya lagu sumbang pengamen jalan serta jagung bakar yang telah beku
besok mungkin aku sudah tidak bisa menyisakan senja untukmu
dan apakah kau harus menanyakan pada amis gerimis dimana aku menambatkan bulan
hanya untuk meminjam sepotong malam
pada sebuah panggung perayaan dan lampion menyala terang
matamu masih menunduk
di tikar koyak kau melukis artefak jalan (yang tak berulang)
sempat terdengar kau meneriakkan namaku saat mulai kehilangan dan memutuskan memutar haluan
ketika kau temukan jam pasir hadiah ulang tahun tercecer dari lenganku pasrah
beserta wangi para pemuja yang merampasku pergi
ke dunia
ke tempat mimpi-mimpi tidak tidak untuk diikrarkan
melumarkan kenangan teraduk sedak isak mengharukan
sesalmu yang selalu kunanti ternyata tidak juga bersua
hanya lagu sumbang pengamen jalan serta jagung bakar yang telah beku
besok mungkin aku sudah tidak bisa menyisakan senja untukmu
dan apakah kau harus menanyakan pada amis gerimis dimana aku menambatkan bulan
hanya untuk meminjam sepotong malam
pada sebuah panggung perayaan dan lampion menyala terang
matamu masih menunduk
di tikar koyak kau melukis artefak jalan (yang tak berulang)
sempat terdengar kau meneriakkan namaku saat mulai kehilangan dan memutuskan memutar haluan
ketika kau temukan jam pasir hadiah ulang tahun tercecer dari lenganku pasrah
beserta wangi para pemuja yang merampasku pergi
ke dunia
ke tempat mimpi-mimpi tidak tidak untuk diikrarkan

1 Comments:
isak tangis yang tertahan
tanpa sadar melesak keluar
tanyamu tak bisa kujawab
angkringan menjadi tempat pelepas kegundahan
sesalku yang kau tunggu tak pernah terucap
aku berbalik menunggu sesalmu
tidak hanya makna penyesalanmu yang kutangkap...
saling menceritakan isi hati
tanpa mengutarakan maksud hati
hingga tangispun terhenti
tanpa ada yang mengerti
ivana
Post a Comment
<< Home