Monday, September 12, 2005

kesaksian hujan bulan september

kau menggandeng tanganku saat kita mulai menapaki malam yang masih perawan
berdua, kita mencumbunya dengan syair sedih yang didendangkan orang-orang kesepian
lukisan embun mengendap di sela tanah merekah bercampur dengan anyir lelah yang sudah

sebuah rahasia percintaan dalam agenda usang yang tersibak
dengan nafas menggebu kita merangkai tulisan tanpa kata
membubuhkan tanda di kekosonngan yang menggelisahkan
dan jejarimu mulai menggores sebongkah tubuh kaku
mengingatkan pada roman asmara kala dan selir-selir durga

di ujung semburat cahaya yang memekakkan itu, kita akan membingkai mimpi kali ini
ketika jalan telah menemukan arah dan pelukanmu yang mulai goyah
sementara aku masih tergagap untuk rencana yang begitu tiba-tiba, sapamu menyampaikan duka

kau meninggalkanku sabelum persimpangan terlewati
bersama hujan kering di bulan september, aku menduga-duga arah
mengendus bau tubuhmu yang tertinggal di pembaringan tua

0 Comments:

Post a Comment

<< Home