memoar senja
hatinya merusuh sejurus peristiwa senja membidikkan mesiu masa lalu
rekaan mozaik-mozaik sekerat wajah tersusun kembali
sketsa tergesa dianakkan buku agenda dari ruas laci berdebu
dalam sebuah bingkai biru dan senandung merah jambu
rekaan mozaik-mozaik sekerat wajah tersusun kembali
sketsa tergesa dianakkan buku agenda dari ruas laci berdebu
dalam sebuah bingkai biru dan senandung merah jambu
“kemanakah hendak kau bawa mimpiku pergi?”
laut masih surut begitupun layar belumlah terkembang
barusan camar-camar kecoklatan beringsut mengunci pintu sarang
di dermaga kota lama dan sejurai liontin retak dalam genggaman
di sana ada rumah kecil dan perapian yang masih menyisakan bara
ricik riuh pergumulan berakhir dengan goresan pada gelas terpelanting
desau asin angin tak juga menawarkan pilu
hanya rintih tatapan coba menerobos kabut dingin yang mulai luruh
ke sana
ke arahnya yang tengah menanti wahana akan menjemputnya ke seberang
lalu datang kabar duka itu

0 Comments:
Post a Comment
<< Home