Tuesday, May 03, 2005

Surat untuk Marsinah

Segera kutanggalkan badanku dan kukuburkan kepalaku
Semoga bisa menghentikan ingusku yang meleleh mengaliri kerinduan yang kau tinggalkan untukku

Masih teringat
Begitu sering aku tergeletak tak berdaya diantara susumu, telaga tangisku
Atau ketika aku bermain dengan mobil jerukmu sementara kau menguliti biji kacang sambil menyenandungkan siang

Waktu itu...sebelum aku menceraikanmu

Tiba-tiba sayup angin membawakan namamu
Umpatanmu...
Sentuhanmu...
Marahmu...
Ciumanmu...
Tapi kenapa menjadi lirih
Seolah kau tak rela aku merasakanmu lagi

Karena kau telah memutuskan untuk pergi
Kata pamit yang hilang kutelan dalam-dalam
Seperti kelereng yang sengaja kau sembunyikan begitu siang
Kau tak mau menunggu, bahkan sampai aku mengerti
Tentang Kala yang memakan bulan dan orang-orang yang memukul lesung bertubi-tubi
Bahkan sampai detik dimana aku masih menyembunyikan senyum di balik dusta perselingkuhan
Juga kata-kata najis di sela asap yang kuhembuskan ke mukamu

Gelap merampasmu dengan tangan-tangan perkasa
Bayanganmu tak mampu kukejar
Hanya tersisa bunga bakung yang terlindas mobil jerukku

Begitu pun malam ini
Mukenamu tergantung lusuh kecoklatan
Nyawanya ikut pergi bersamamu
Juga nyawa daster biru bunga-bunga merah jambu
Pun nyawa kesembuhan atas lukaku

Malam ini aku menantimu
Akan kutembangkan purnama
Penuh dengan Kala yang sudah kubunuh
Kusandingkan kembang ilalang dalam kepang rambutmu sembari bercerita tentang gerimis tangis Dewi Uma

Anakmu rapuh
Isaknya yang membisukan
Beterbangan bersama daun jati
Tempat kita dulu memagut hati

1 Comments:

Anonymous Anonymous said...

fur: c
kenangan itu tetap ada ketika sekejap kami bersua dan menguliti melinjo dari kebunmu untuk kita santap siang itu.
senandung lirih kepada tuhanku akan terus kudendangkan untuk engkau yang mencintai mentari pagi sampai diujung waktu.
pun denganku,
kuyakini engkau di surga sana juga mengerti,

10:53 AM  

Post a Comment

<< Home