Malam yang Enggan Pulang
Kau henyakkan bangku dengan tergesa
Sedetik sebelum memaksa daun pintu terbuka
Angin menusuk malas
Menerpa ujung-ujung rambutmu diam
Namun tak sediam kakimu memaku
Tidak seperti kemarin atau ribuan hari yang lalu, kau kembali mengusir segerombolan garis matahari yang menyatroni ruang tamumu
Tidak hari ini
Tubuhmu membayang, meski kau membelakanginya
Matamu tertuju pada sosok randu alas di ujung jalan
Tatapanmu menembus batang dan menguliti kerak-kerak masa yang mengeras
Pada akhirnya malam kecewa
Karena sudah tidak bisa lagi mengetuk pintu rumahmu
Dia bergidik
Sedetik sebelum memaksa daun pintu terbuka
Angin menusuk malas
Menerpa ujung-ujung rambutmu diam
Namun tak sediam kakimu memaku
Tidak seperti kemarin atau ribuan hari yang lalu, kau kembali mengusir segerombolan garis matahari yang menyatroni ruang tamumu
Tidak hari ini
Tubuhmu membayang, meski kau membelakanginya
Matamu tertuju pada sosok randu alas di ujung jalan
Tatapanmu menembus batang dan menguliti kerak-kerak masa yang mengeras
Pada akhirnya malam kecewa
Karena sudah tidak bisa lagi mengetuk pintu rumahmu
Dia bergidik
Tentang sebilah kapak di tangan kananmu

1 Comments:
semoga dia membunuh sang matahari...
great poet made by ordinary fuck loser...
Post a Comment
<< Home