repertoar hujan
ada hujan tiba-tiba menyergap tanah di ujung kemarau resah
angin yang telah kerasukan menghantarkannya menyapa jendela kamarku suatu malam
mengetuk-mengetuk membabi buta
semestinya bulan penuh kali ini
namun mungkin aku harus menunggu awan yang begitu hitam menghabiskan tangisnya
dan cahaya bisa menunjukkan arah jalan menuju rumahku
pun kabar gembira yang disampaikan senyap pada daun pintu yang lupa berderit
seorang lelaki masih duduk di atas kursi rotan
memandang keluar menyibakkan hujan berderai
di sana
mataku tertuju pada jejak-jejak tak terhapuskan
di balik dingin yang menyingkap tirai jendela, aku membunuh siang
belum juga kudengar ketukan pada pintu yang dahaga
berharap membukanya dengan harapan yang terlanjur sesal
seorang lelaki mencoba merangkai kenangan
ke dalam kata-kata terbata dihanyutkan air mata
melukis jejak-jejak baru perjalanan duka
di atas kursi rotan, bilakah cerita akan menjadi sudah
karena bukan pula hujan sanggup menghapus segala

0 Comments:
Post a Comment
<< Home